Jumat, 07 Oktober 2016

Abdullah Yusuf Ali, Penerjemah al-Qur’an ke Bahasa Inggris yang Paling Otoritatif

Oleh: Satrio Arismunandar

Jika Anda ingin mencari terjemahan bahasa Inggris terbaik dari kitab suci Al-Qur’an, Anda akan menemui nama Abdullah Yusuf Ali. Abdullah Yusuf Ali adalah seorang akademisi dan penerjemah Al-Qur’an ke bahasa Inggris, yang menghasilkan karya terjemahan dan tafsir monumental.

Hingga saat ini karyanya masih dipandang sebagai terjemahan bahasa Inggris dari Al-Qur’an yang paling dikenal, paling dihormati, paling otoritatif, paling otentik, dan paling banyak dipelajari. Ini adalah hasil penilaian dari berbagai akademisi dan lembaga Islam di seluruh dunia.

Karyanya itu kemudian direvisi dan diperbarui, dan terus-menerus disempurnakan, antara lain oleh lembaga International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Amerika, yang pernah diketuai Ismail Raji al-Faruqi. Sejak terjemahan versi awal, karya Yusuf Ali telah mengalami cetak ulang berkali-kali, dan jutaan copy telah didistribusikan ke seluruh dunia.

Karya Yusuf Ali menginspirasi banyak penerjemah lain untuk melakukan langkah serupa. Gaya puitis terjemahannya yang menggugah, dan otentisitas dari berbagai komentar dan penjelasan terhadapnya yang meluas, sangat besar perannya sebagai pembangun reputasi pada karya terjemahan ini.

Abdullah Yusuf Ali lahir pada 1872 dalam sebuah keluarga di komunitas Bohra di Surat, India. Ayahnya, yang seorang pedagang, adalah sosok yang sangat religius. Sang ayah memastikan agar putranya belajar al-Qur’an, sebelum mempelajari ilmu yang lain-lain. Pada usia 4-5 tahun, Yusuf Ali mulai pertama kali belajar membaca Qur’an.

Unggul dan Berprestasi Tinggi

Sesudah Yusuf Ali muda khatam atau menyelesaikan hapalannya atas Qur’an, sang ayah merayakan momen itu dengan pesta makan-makan. Sang ayah ingin menunjukkan pada Yusuf Ali tentang pentingnya prestasi menghapal al-Qur’an itu dan pentingnya al-Qur’an. Sebagai tambahan bagi pelajaran pengetahuan kontemporer di sekolah, Yusuf Ali terus menerima pelajaran bahasa Arab dan tidak pernah berhenti mempelajari al-Qur’an.

Ia adalah siswa yang unggul dan mencapai prestasi tinggi dalam bidang akademis, dan memenangkan penghargaan Indian Civil Service Award. Ini adalah penghargaan yang sangat bergengsi, yang merupakan hasil dari ujian masuk yang sangat kompetitif bagi perolehan jabatan-jabatan tinggi di Pelayanan Sipil India. Keluarga-keluarga kaya biasanya sangat mengharapkan putranya bisa meraih penghargaan ini.

Yusuf Ali dengan mudah menyerap literatur berbahasa Inggris, dan di kalangan warga India lainnya dia dipandang sebagai yang terbaik, dalam menulis dengan bahasa Inggris. Banyak dari majalah-majalah akademis yang paling dikenal di India memuat karya-karyanya. Media itu memuji gaya penulisan Yusuf Ali yang indah.

Kemudian, Yusuf Ali meninggalkan India dan pergi ke Eropa. Ia mengunjungi banyak ibukota di Eropa, dan akhirnya berdiam di London, Inggris, untuk periode waktu tertentu. Ketika tinggal di London, ia membaca banyak terjemahan Qur’an. Ia terus memiliki minat yang sangat besar terhadap Qur’an dan studi-studi tentang Qur’an. Yusuf Ali kemudian mulai mempelajari Qur’an secara cermat, dan memberi perhatian khusus terhadap berbagai penafsiran Qur’an, baik yang lama maupun yang baru.

Sesudah mempelajari apa yang ditulis tentang Qur’an dalam bahasa-bahasa Eropa dan Timur, Yusuf Ali kembali ke India. Kali ini ia mengambil tempat tinggal baru di Lahore, di mana ia menjadi Dekan Kolese Islam. Ia kemudian memulai karya monumentalnya, menerjemahkan dan memberi komentar tentang Qur’an. Yusuf Ali meninggal dunia di London pada 1951.

Tak Ada Terjemahan Sempurna

Yusuf Ali berpendapat, tidak akan ada terjemahan yang mutlak atau sempurna tentang Qur’an. Paling jauh, yang bisa ditawarkan adalah penafsiran dari makna yang sudah dipahami. Mungkin, waktu itu ia tidak pernah membayangkan, seberapa mendunia karya terjemahannya itu di kemudian hari.

Ini bisa dimengerti, karena saat itu, niat utama Yusuf Ali adalah berusaha menjelaskan pemahamannya tentang Qur’an kepada sesama warga India –baik yang Muslim maupun non-Muslim. Oleh karena niat itu, ia kadang-kadang menggunakan referensi atau rujukan, yang tidak mudah diapresiasi atau dikenali di luar Anak Benua India.

Yang ingin dipersembahkan oleh Yusuf Ali adalah sebuah Penafsiran berbahasa Inggris yang disampaikan berdampingan dengan teks bahasa Arab. Bahasa Inggris itu bukanlah sekadar pengganti kata per kata dari teks Arab. Tetapi, ia adalah ekspresi terbaik yang bisa diberikan, hingga ke makna yang paling penuh dan utuh, yang bisa dipahami Yusuf Ali dari teks Qur’an berbahasa Arab. “Saya ingin membuat bahasa Inggris itu sendiri bahasa yang Islami, jika orang seperti saya dapat melakukannya,” lanjutnya.

Yusuf Ali menyatakan, ia telah mengeksplorasi tanah Barat, cara-cara Barat, dan kedalaman pemikiran Barat serta pembelajaran Barat, sampai ke tingkat di mana jarang terjadi pada banyak manusia fana Timur. Namun, dirinya tidak pernah kehilangan sentuhan dengan warisan Timur.

“Melalui semua keberhasilan dan kegagalan, saya telah belajar untuk lebih dan lebih mengandalkan pada satu yang benar dalam kehidupan –suara yang berbicara dalam lidah melampaui manusia fana. Bagi saya, perwujudan dari suara itu adalah dalam kata-kata agung Qur’an berbahasa Arab, yang sudah saya coba menerjemahkan untuk diri saya sendiri, dan menerapkannya pada pengalaman saya berulang kali,’ ujar Yusuf Ali.

(Dikutip, diterjemahkan, dan disadur secara bebas dari Kata Pengantar “The Meaning of The Holy Qur’an,” karya Abdullah Yusuf Ali, Penerbit Amana Corporation, Maryland 20722, Amerika Serikat, tahun 1993).

Jakarta, 7 Oktober 2016

Ditulis untuk www.Aktual.com