Rabu, 02 November 2016

Mengantisipasi Tantangan Perang Hibrida (Hybrid War)

Oleh: Satrio Arismunandar

Ada berbagai macam jenis perang modern yang bisa melibatkan Indonesia. Ada yang dinamakan perang proksi (proxy war), yakni perang dengan meminjam tangan pihak lain. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sudah sering mengingatkan tentang ancaman perang proksi. Namun, yang belum banyak dibahas adalah jenis perang lain, yaitu perang hibrida.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal George W. Casey, sudah bicara tentang sebuah jenis baru perang, yang akan semakin umum terjadi di masa depan. “Yaitu, sebuah hibrida antara perang ireguler dan perang konvensional,” ujarnya.

Perang hibrida (hybrid war) adalah strategi militer yang mencampurkan perang konvensional, perang iregular, dan perang siber. Dalam perang ini, dengan mengombinasikan operasi-operasi kinetik dengan upaya-upaya subversif, pihak agresor bermaksud untuk menghindari atribusi atau retribusi.

Atribusi berarti identifikasi yang jelas tentang aktor pelaku, sehingga menghindari atribusi berarti menampilkan ketidakjelasan tentang aktor pelaku yang sesungguhnya. Sedangkan, retribusi berarti tindak balasan dari pihak yang diserang kepada aktor pelaku. Dengan tidak jelasnya identifikasi pelaku, otomatis tindakan pembalasan juga menjadi tidak mudah dilakukan.

Perang hibrida dapat digunakan untuk menjabarkan dinamika yang kompleks dan luwes dari ruang pertempuran. Dinamika ini menuntut tanggapan yang ulet, dan tanggapan yang sangat tinggi tingkat adaptasi atau penyesuaian dirinya.

Ada beragam istilah yang sering digunakan untuk merujuk ke konsep perang hibrida, yakni: hybrid war, hybrid warfare, hybrid threat, atau hybrid adversary. Badan-badan militer Amerika cenderung bicara dalam kerangka “ancaman hibrida” (hybrid threat), sementara berbagai literatur akademik bicara tentang “perang hibrida” (hybrid warfare). Dalam artikel ini, kedua istilah itu bisa digunakan secara silih berganti dalam makna yang sama.

Definisi AS dan NATO

Komando Pasukan Gabungan Amerika Serikat merumuskan ancaman hibrida sebagai, “setiap musuh yang secara serempak dan adaptif menerapkan campuran yang disesuaikan antara cara-cara atau aktivitas-aktivitas konvensional, ireguler, terorisme, dan kriminal, di ruang pertempuran operasional. Ketimbang sebagai entitas tunggal, suatu ancaman atau penantang hibrida mungkin merupakan kombinasi dari aktor-aktor negara dan non-negara.”

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menggunakan definisi yang lebih pendek dan sederhana. NATO mendefinisikan ancaman hibrida sebagai “musuh-musuh yang memiliki kemampuan, untuk dengan serempak menerapkan cara-cara konvensional dan non-konvensional secara adaptif, dalam mengejar tujuan mereka.”

Tidak ada definisi perang hibrida yang diterima secara universal. Sehingga, hal ini menjurus ke sejumlah perdebatan, tentang apakah istilah itu betul-betul berguna. Beberapa kalangan mengatakan, istilah itu terlalu abstrak. Istilah itu hanya merupakan istilah terakhir, untuk merujuk ke metode-metode ireguler, atau metode yang tidak biasa, untuk menandingi kekuatan yang lebih unggul secara konvensional.

Berbagai Aspek Perang Hibrida

Perang hibrida adalah perang dengan aspek-aspek sebagai berikut:

Pertama, musuh yang non-standar, kompleks, dan cair. Musuh hibrida bisa berupa negara atau non-negara. Misalnya, dalam kasus perang Israel-Hizbullah dan Perang Saudara Suriah, pihak-pihak utama yang bermusuhan adalah entitas non-negara di dalam sistem negara.

Aktor-aktor non-negara ini dapat menjadi proksi (kepanjangan tangan) dari negara tertentu, namun mereka juga memiliki agenda-agenda tersendiri. Misalnya, Iran adalah sponsor Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Namun, insiden “penculikan tentara Israel” adalah agenda Hizbullah, dan bukan agenda Iran. Insiden inilah yang kemudian memicu perang Israel-Hizbullah.

Di sisi lain, keterlibatan Rusia di Ukraina dapat dijabarkan sebagai aktor negara tradisional, yang melancarkan perang hibrida (sebagai tambahan dari penggunaan proksi hibrida lokal). Rusia diketahui mendukung warga Crimea berbahasa Rusia di dalam wilayah Ukraina, yang menentang pemerintah Ukraina. Namun perlu dicatat, bahwa Rusia membantah keterlibatan dalam konflik Ukraina.

Kedua, musuh hibrida menggunakan kombinasi metode-metode konvensional dan ireguler. Metode dan taktik itu termasuk kapabilitas konvensional, taktik-taktik ireguler, formasi-formasi ireguler, aksi-aksi teroris, kekerasan tanpa pandang bulu, dan aktivitas kriminal. Musuh hibrida juga menggunakan aksi-aksi rahasia (clandestine actions) untuk menghindari atribusi atau retribusi.

Metode-metode ini digunakan secara serempak di seluruh spektrum konflik dengan sebuah strategi terpadu (unified strategy). Contoh terbaru adalah aspirasi-aspirasi transnasional dari kelompok ekstrem ISIS (Islamic State of Iraq and Syria atau Negara Islam di Irak dan Suriah), taktik-taktik campuran, formasi-formasi terstruktur, dan penggunaan teror yang kasar sebagai bagian dari persenjataan mereka.

Ketiga, musuh hibrida bersifat luwes dan mampu beradaptasi secara cepat. Contohnya, adalah tanggapan ISIS terhadap kampanye pemboman besar-besaran militer Amerika. ISIS dengan cepat mengurangi jumlah pos pemeriksaan (checkpoints) dan penggunaan telepon seluler (karena sinyal telepon seluler bisa dilacak oleh rudal Amerika). Para anggota militan ISIS juga membaur di kalangan penduduk sipil. Dampak kerusakan (collateral damage) akibat pemboman udara AS, yang diderita warga sipil, bahkan dapat dimanfaatkan ISIS sebagai alat propaganda dan sarana rekrutmen anggota baru.

Komunikasi Massa dan Propaganda

Keempat, musuh hibrida menggunakan sistem persenjataan canggih dan teknologi-teknologi disruptif lain. Senjata-senjata ini sekarang dapat dibeli dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Lebih jauh, teknologi-teknologi militer baru lainnya dapat disesuaikan untuk penggunaan di medan tempur, seperti teknologi jejaring seluler.

Pada 2006, pasukan Hizbullah dilengkapi dengan senjata-senjata berteknologi tinggi, seperti rudal presisi yang biasa digunakan negara-bangsa. Pasukan Hizbullah berhasil menembak jatuh sejumlah helikopter Israel, merusak parah sebuah kapal patroli dengan rudal jelajah, dan menghancurkan tank-tank lapis baja kelas berat Merkava IV, dengan penembakan rudal dari bunker-bunker tersembunyi.

Hizbullah juga menggunakan pesawat nir-awak (drone) untuk mengumpulkan data intelijen, berkomunikasi dengan telepon seluler bersandi, dan mengawasi gerakan pasukan Israel dengan peralatan termal penglihat malam (night-vision equipment). Dalam perang itu, 3.000 pejuang Hizbullah yang membaur dalam penduduk Lebanon Selatan diserang oleh 30.000 pasukan reguler Israel.

Kelima, penggunaan komunikasi massa dan propaganda. Pertumbuhan jejaring komunikasi massa menawarkan alat propaganda dan rekrutmen yang kuat. ISIS, misalnya, dengan piawai menggunakan berbagai media sosial untuk mempromosikan ideologi dan agendanya. Berbagai gambar yang menunjukkan “kehebatan” ISIS disebar melalui Youtube. Sementara pesan-pesan propaganda kelompok bisa dibaca meluas melalui Twitter dan Facebook.

Dalam kasus perang Israel-Hizbullah, jaringan komunikasi massa Hizbullah dengan cepat menyebarkan foto-foto dan video tentang situasi medan pertempuran, yang mendominasi perang persepsi di sepanjang konflik. Israel tidak kalah perang di medan tempur, namun kalah dalam perang informasi, karena persepsi yang umum mendominasi pada waktu itu adalah bahwa militer Israel kalah. Hizbullah dianggap sukses bertahan melawan pasukan Israel yang berjumlah jauh lebih besar, meski basis Hizbullah dihujani bom-bom berat oleh pesawat-pesawat tempur Israel.

Bagaimanapun, meski meraih sukses di tingkatan taktis dan propaganda, korban di pihak Hizbullah sangat berat. Sedikitnya 600 pejuang tewas dan sejumlah korban lain luka-luka. Di sisi lain, Israel berhasil mencapai tujuan politiknya, untuk menangkal serangan-serangan Hizbullah.

Dari musim panas 2000 sampai musim panas 2006, Hizbullah telah melancarkan hampir 200 serangan ke Israel. Namun, selama enam tahun sesudahnya, Hizbullah sepenuhnya menahan diri dan tidak menyerang Israel. Hizbullah secara jelas mengambil jarak –dan menyatakan tidak terlibat-- dalam serangan-serangan terhadap Israel oleh pihak-pihak lain yang berbasis di Lebanon.

Tiga Medan Tempur Berbeda

Keenam, sebuah perang hibrida terjadi pada tiga medan tempur yang berbeda. Yakni, medan tempur konvensional, penduduk asli yang berada di zona konflik, dan komunitas internasional. Kehadiran tentara Amerika di Irak sejak invasi 2003 diwarnai oleh tiga medan tempur tersebut. Dalam medan tempur konvensional, pasukan AS yang unggul dalam kecanggihan teknologi perang telah menang telak, dengan berhasil menaklukkan militer Irak, yang waktu itu masih dipimpin oleh Presiden Irak Saddam Hussein.

Tetapi setelah menduduki Irak, pasukan AS –yang kehadirannya tidak populer di Irak-- kerepotan menghadapi berbagai aksi serangan bom dan teror dari berbagai kelompok di Irak. Kelompok-kelompok yang anti-AS tersebut membaur di lingkungan penduduk asli setempat, dan tidak mudah bagi AS menghadapi musuh yang membaur di kalangan penduduk. Untuk memenangkan perang, pasukan AS harus mendapat simpati dan dukungan dari warga setempat, tetapi ternyata hal ini tidak mudah.

Sedangkan di mata komunitas internasional, kehadiran pasukan AS yang berkepanjangan juga tidak menguntungkan. Di dalam negeri Amerika, sebagian warga AS berpendapat, tidak ada gunanya mempertahankan pasukan AS di Irak, apalagi banyak prajurit AS yang tewas akibat serangan bom dari kelompok perlawanan. Di negara-negara Arab, termasuk di Irak sendiri, oleh banyak warga, pasukan AS dipandang sebagai pasukan “penjajah” dan kekuatan kolonial-imperialis yang menduduki negara lain.

Pasukan militer tradisional umumnya merasa sulit merespons perang hibrida. Negara-negara yang menjadi bagian dari sistem pertahanan kolektif, seperti NATO, mungkin sulit mencapai kata sepakat tentang sumber konflik. Maka, hal ini menimbulkan kesulitan pula untuk merespons. Selain itu, untuk menandingi ancaman hibrida, kekuatan keras (hard power) sering tidak memadai. Kekuatan yang jauh lebih besar tidaklah cukup untuk jadi penangkal (deteren).

Sering kali konflik muncul tanpa disadari, dan bahkan tanggapan yang dianggap “cepat” terbukti kemudian sudah terlambat. Banyak militer tradisional juga kurang memiliki keluwesan untuk berganti taktik, prioritas, dan tujuan-tujuan secara konstan atau terus-menerus.

Contoh Perang Hibrida

Kombinasi metode-metode konvensional dan ireguler dalam perang sebenarnya bukanlah hal yang baru. Cara-cara ini sudah diterapkan di sepanjang sejarah militer. Ada sejumlah contoh yang bisa ditemukan pada Perang Revolusi Amerika, yang melibatkan kombinasi Tentara Kontinental Washington dengan pasukan milisi. Juga, pada Perang-perang Napoleon di Eropa, di mana pasukan reguler Inggris bekerjasama dengan gerilyawan Spanyol.

Berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat versus Uni Soviet telah menciptakan sistem unipolar, di mana kekuatan militer Amerika menjadi kekuatan yang dominan. Perkembangan ini telah meredakan konflik-konflik tradisional. Namun, konflik dan ancaman regional --yang menggoyang kelemahan struktur militer konvensional-- telah menjadi semakin sering terjadi.

Hal yang juga baru adalah kecanggihan (sophistication) dan daya mematikan (lethality) dari aktor-aktor non-negara. Aktor-aktor ini dipersenjatai dengan baik, menggunakan senjata-senjata maju yang sekarang tersedia dengan harga relatif murah. Sebuah unsur baru lain adalah kemampuan aktor-aktor non-negara untuk bertahan dalam sistem modern.

Contoh perang hibrida lain adalah pada 2014, ketika kelompok ekstrem ISIS sebagai aktor non-negara memanfaatkan taktik-taktik hibrida untuk melawan pasukan militer konvensional Irak. ISIS memiliki aspirasi-aspirasi transisional, menggunakan taktik-taktik reguler dan ireguler, serta menerapkan teror sebagai bagian dari persenjataannya dalam konflik.

Gerak maju pasukan ISIS yang cepat di Irak telah mengejutkan banyak pihak. Menanggapi langkah ISIS, otoritas Irak sendiri juga beralih menggunakan taktik-taktik hibrida, dengan memanfaatkan aktor-aktor internasional dan non-negara, untuk mengimbangi gerak maju ISIS.

Amerika sendiri adalah peserta hibrida dalam konflik ini, melalui kombinasi kekuatan udara tradisional, penyediaan penasihat-penasihat bagi pasukan pemerintah Irak, pasukan Peshmerga Kurdi, dan milisi-milisi sektarian, dan memberi pelatihan pada pasukan-pasukan oposisi di dalam wilayah Suriah.

Perang hibrida di Irak dan Suriah adalah konflik di mana terdapat kelompok aktor-aktor negara dan non-negara yang saling berkaitan (interconnected), yang mengejar tujuan-tujuan yang tumpang tindih, serta sebuah negara setempat yang lemah. Perang ini melibatkan pasukan pemerintah, kelompok-kelompok oposisi, dan negara-negara luar.

Melihat dinamika konflik yang sudah dan mungkin akan terjadi di masa depan, ancaman perang hibrida jelas adalah sesuatu yang nyata. Apalagi jika kita melihat konteks regional dan internasional. TNI perlu mencermati dan mendalami lebih lanjut tentang berbagai aspek dan komplikasi perang hibrida, sehingga siap menghadapi segala potensi ancaman di masa mendatang. ***

Jakarta, November 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER