Rabu, 02 November 2016

Pesawat F-35 Pertahankan Keunggulan Israel di Udara

Oleh: Satrio Arismunandar

Di penghujung masa jabatannya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama membuat “jasa baik” pada Israel, dengan kesepakatan bantuan militer terbesar dalam sejarah hubungan kedua negara. Meskipun Israel sering berulah dengan terus membangun permukiman Yahudi di daerah Palestina, dan menghambat proses perdamaian Israel-Palestina, toh Obama merasa perlu mengganjar Israel dengan bantuan menggiurkan.

AS menyepakati paket bantuan sebesar 38 miliar dollar AS (sekitar Rp 500,29 triliun) dalam jangka waktu 10 tahun. Penandatanganan bantuan itu dilakukan di Washington DC pada 14 September 2016. Ini adalah bantuan militer terbesar, yang belum pernah diberikan AS pada negara lain manapun. Paket bantuan ini mengukuhkan komitmen AS untuk mendukung kemajuan persenjataan Israel.

Sebelum pengumuman bantuan militer itu, militer Israel juga sudah diberi keistimewaan. Sejarah baru bagi militer Israel telah diciptakan di Dallas, Texas, Amerika Serikat, 26 Juli 2016. Ketika itu pesawat tempur siluman F-35 “milik Israel” melakukan lepas landas dalam terbang perdananya, dan sukses menjalani berbagai pengujian atas sistem keseluruhan.

Upacara roll out tradisional pesawat itu sudah dilakukan pada 22 Juni 2016, dengan kehadiran Menteri Pertahanan Israel Avigdor Liberman. Kedatangan pesawat-pesawat pertama F-35 ke Israel direncanakan berlangsung pada Desember 2016. Para pejabat senior Angkatan Udara Israel mengatakan pada Al-Monitor bahwa kedatangan jet-jet tempur F-35 Stealth ini sangat krusial untuk mempertahankan keunggulan Israel di udara.

AU Israel akan menjadi angkatan udara pertama di luar Amerika Serikat yang memiliki skuadron Stealth yang sudah operasional. Di AS sendiri, US Navy (Angkatan Laut AS) sudah membuat jajaran F-35-nya bertugas dan mengumumkan status Kapabilitas Operasi Awal (Initial Operating Capability).

Perspektif Ancaman Iran

Waktu kedatangan pesawat Stealth ke Israel sendiri tampaknya terkait dengan perspektif ancaman dari Iran. Republik Islam Iran adalah satu-satunya negara Timur Tengah, yang dianggap sebagai ancaman serius oleh militer Israel.

Seorang pejabat tinggi militer Israel, yang tak mau disebut namanya, menyatakan, “Baterai-baterai rudal darat-ke-udara S-300 yang diproduksi oleh Rusia sudah sampai di Iran. Walaupun rudal-rudal itu belum operasional, kami memperkirakan rudal itu akan operasional dalam waktu yang tidak terlalu lama.”

Kedatangan pesawat F-35 ke Israel —yang bertepatan dengan pasokan rudal S-300 Rusia ke Iran—akan mempertahankan keunggulan kualitatif Israel di ruang udara Timur Tengah.

“Dalam sebagian besar kasus, F-35 mampu menghindari radar S-300,” ucap sebuah sumber militer anonim. “Ini adalah tantangan besar bagi kami, namun kami siap menghadapinya. (Pesawat) Stealth dibangun persis untuk tujuan ini dan akan memberi kami kebebasan bergerak, bahkan terhadap perkembangan baru (di Iran) ini,” lanjutnya.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF – Israel Defense Forces) secara umum dan angkatan udara khususnya lebih prihatin dengan kemungkinan bahwa beberapa dari rudal S-300 tersebut, yang masing-masing mampu menjangkau jarak wilayah lebih dari 300 km, akan mampu disusupkan dari Iran ke Suriah atau Lebanon. “Skenario semacam itu akan menghadirkan perubahan strategis yang besar bagi kami. Kami akan melakukan segala hal yang dimungkinkan untuk mencegah hal ini,” ujar seorang sumber militer Israel.

Juga, ada kekhawatiran bahwa militer Iran akan mempelajari sistem rudal S-300, mencoba memproduksinya sendiri, dan kemudian mentransfer pengetahuan itu ke Hizbullah di Lebanon atau Presiden Suriah Bashar al-Assad. Israel berharap, hal itu tidak akan terjadi.

Peningkatan Kapabilitas AU Israel

Dengan satu dan lain cara, AU Israel menunggu dengan rasa gairah dan tak sabar bagi kedatangan pesawat F-35. Ada perdebatan sengit tentang kapabilitas pesawat itu, yang sebelumnya sempat muncul di lingkungan AU Israel tapi harus diakhiri.

“Pesawat ini akan memperbarui keseluruhan angkatan udara dengan satu generasi teknologi yang komplit. Ini adalah transisi dari jet-jet tempur generasi-keempat ke generasi-kelima, dan bahkan lebih dari itu. Misi-misi yang kami lakukan sampai saat ini, dengan sejumlah dua-digit pesawat, akan mampu dieksekusi oleh jumlah satu-digit pesawat yang sedikit,” tutur sumber Israel.

Alasannya sederhana. Ketika AU Israel melaksanakan sebuah misi pemboman strategis yang penting, ia membutuhkan pesawat-pesawat yang akan melakukan aksi pemboman. Namun, selain itu dibutuhkan pesawat-pesawat lain, yang akan melindungi pesawat pertama dari intersepsi (serangan pesawat musuh). Juga, masih dibutuhkan pesawat lain lagi, untuk memberikan perlindungan dari serangan rudal darat-ke-udara (SAM).

Namun, pesawat F-35 mampu mengerjakan seluruh tiga tugas itu sendirian, dengan tingkat keefektifan yang luar biasa. F-35 memiliki jejak radar yang sangat kecil dan tidak terancam oleh sebagian besar SAM. Dengan adanya F-35, ini semua memberi dunia yang sama sekali berbeda.

Beberapa anggota jajaran tinggi AU Israel sudah melakukan penerbangan simulasi di sistem simulator F-35 yang canggih. “Kita sepenuhnya berada di liga yang berbeda,” ujar salah satu anggota AU Israel, menjabarkan kesannya sesudah melakukan penerbangan simulasi. “Penerbangan itu termasuk dogfight (pertarungan antar-pesawat di udara) melawan jajaran pesawat non-F-35 yang maju, dan (pesawat F-35) Stealth menang,” tegasnya.

Menurut penilaian AU Israel, pesawat-pesawat Stealth bukan hanya membawa kapabilitas baru. Namun, kehadiran mereka juga akan “menarik” pesawat-pesawat AU Israel lainnya ke depan, dan mengangkat keseluruhan korps udara Israel ke atas. Alasannya: kehebatan daya jangkau visual dari pesawat Stealth.

Pesawat-pesawat F-35 ini terbang dalam formasi dan membawa sebuah sistem, yang memungkinkan masing-masing pilot melihat gambar keseluruhan tentang arena di sekelilingnya dari ruang pilot. Pesawat-pesawat lain yang bukan F-35 juga bisa dimasukkan ke dalam sistem F-35, dan dengan demikian mereka juga memperoleh pelonjakan keunggulan yang luar biasa.

Dengan cara ini, kapabilitas ratusan pesawat tempur F-15 dan F-16 yang sudah dimiliki oleh AU Israel juga dapat mengalami peningkatan besar. Pesawat F-15 dan F-16 adalah andalan utama AU Israel saat ini. F-16 untuk menjalankan misi multiperan, sedangkan F-15 menjalankan misi serangan darat dan untuk keunggulan di udara.

Kurangi Biaya Pemeliharaan

Keuntungan lainnya adalah sejumlah besar pelajaran praktik simulator tersedia di pesawat Stealth. Konsep pelatihan di belakang F-35 adalah menghabiskan 50 persen praktik latihan pada pertarungan sesungguhnya (real fights), dan 50 persen untuk praktik simulator penerbangan. Ini merupakan perubahan revolusioner.

Saat ini, hanya 8 persen praktik penerbangan di AU Israel dilakukan di simulator. Kehadiran Stealth secara dramatis akan meningkatkan jumlah ini. Hal ini praktis merupakan penghematan besar, dalam kaitan pemeliharaan pesawat-pesawat dan kebugaran penerbangan bagi para pilot. Ini juga akan mengkompensasi biaya suku cadang F-35 Stealth. Secara umum, ini pada akhirnya akan mengurangi biaya pemeliharaan skuadron Stealth, mungkin sampai ke tingkatan biaya pemeliharaan skuadron F-15.

AU Israel akan menyerap 33 pesawat F-35 dalam dua tahun ke depan. Komandan AU Israel Mayjen Amir Eshel sebenarnya menginginkan lebih banyak F-35, namun angka 33 pesawat sebenarnya sudah cukup memadai sampai saat in. Sebuah doktrin tempur khusus untuk pesawat-pesawat F-35 ini sudah dituntaskan.

Bahkan, desas-desus bahwa F-35 memiliki kapasitas mengangkut beban yang lebih terbatas (untuk persenjataan) ketimbang pesawat-pesawat pesaingnya, sudah dibantah. Ketika F-35 terbang sambil mengurangi jejak radar (kondisi “siluman” yang maksimum), ia mampu mengangkut 2 ton bom, dan ditambah 4 rudal udara-ke-udara, persis seperti kapasitas F-16. Sedangkan, ketika pesawat F-35 tidak mengurangi jejak radarnya, F-35 mampu mengangkut 6 ton bom dan 4 rudal, persis seperti F-15.

Itu sudah lebih dari cukup bagi kebutuhan AU Israel. Pada tahap pertama dari perang, ketika risiko serangan rudal anti-pesawat sedang pada puncaknya, pesawat Stealth memiliki kapasitas angkut beban seperti F-16. Sedangkan, pada tahap kedua, ketika ancaman rudal sudah dilenyapkan, F-35 akan meningkatkan dirinya sendiri ke kapasitas angkut beban seperti F-15.

Dalam kasus manapun, pada tahap ini AU Israel tidak membutuhkan kemampuan siluman untuk terbang di atas Gaza, wilayah Palestina yang dipimpin Hamas dan kelompok militan yang menentang penjajahan Israel. Maka, pesawat F-35 bisa mengangkut 6 ton amunisi ke sana sejak menit pertama. “Ini adalah kemampuan yang fantastis. Sscara keseluruhan, ini adalah apa yang kami impikan selama in di AU Israel,” kata seorang petinggi AU Israel.

Menyerang Hamas dan Hizbullah

AU Israel menjadi ujung tombak Operation Cast Lead (2008-2009), yang melancarkan lebih dari 2.360 serangan udara. Peran utamanya adalah dalam menghancurkan sasaran-sasaran Hamas, kelompok perlawanan Palestina di daerah Gaza. Serangan AU Israel itu menewaskan beberapa komandan senior Hamas, seperti Said Seyam, Nizar Rayan, Tawfik Jaber, dan Abu Zakaria al-Jamal.

AU Israel juga mengoperasikan rudal darat-ke-udara dan unit-unit artileri anti-pesawat. Semua persenjataan ini digunakan dalam perang dan telah menembak jatuh sejumlah pesawat negara Arab.

Sejak 1990, peran utamanya adalah mengintersepsi rudal darat-ke-darat dan roket-roket yang ditembakkan ke arah Israel. Pada 2011, AU Israel memulai operasi sistem rudal anti-roket Iron Dome, yang dalam setahun telah sukses mengintersepsi dan menghancurkan 93 roket, yang ditembakkan ke kota-kota Israel dari Gaza.

AU Israel banyak melakukan serangan ke kubu Hizbullah. Pada 25 April 2015, serangkaian serangan dilakukan di kawasan al-Qalamoun, Suriah, dengan sasaran kamp-kamp Hizbullah dan konvoi persenjataan di dua pangkalan brigade.

Pada 29 Juli 2015, pesawat tempur Israel dilaporkan menghancurkan sebuah kendaraan yang berlokasi di desa Druse di Suriah baratdaya, menewaskan seorang anggota Hizbullah dan seorang milisi pro-Suriah. Serangan kedua mengambil sasaran basis militer di sepanjang perbatasan Suriah-Lebanon, yang dikuasai sebuah faksi Palestina pro-Suriah.

Menurut media Suriah, pada 31 Oktober 2015, pesawat Israel menyerang banyak sasaran Hizbullah di Suriah selatan, dekat perbatasan Lebanon, di kawasan Pegunungan Qalamoun. Diperkirakan, sasaran itu termasuk konvoi senjata yang ditujukan pada Hizbullah. Serangan pesawat Israel lainnya terjadi pada 11 November 2015 di dekat bandara Damascus, dengan sasaran gudang-gudang persenjataan Hizbullah.

Oposisi Suriah juga melaporkan serangan udara Israel di kawasan Qalamoun, perbatasan Suriah-Lebanon, pada 23 November 2015. Serangan itu dikabarkan menewaskan 13 prajurit Suriah dan pejuang Hizbullah, dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka, termasuk empat yang luka serius.

Paket Bantuan Militer AS

Pemberian keistimewaan pada Israel, sebagai calon pengguna pesawat F-35 pertama di luar Amerika, adalah bagian dari paket bantuan keseluruhan yang diberikan pemerintah Obama kepada pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sebelum penandatanganan paket bantuan 38 miliar dollar AS untuk jangka waktu 10 tahun, sudah dilakukan perundingan yang cukup alot selama 10 bulan.

Netanyahu awalnya menginginkan bantuan sebesar 4,5 miliar dolar AS per tahun. Sedangkan nota kesepahaman antara Israel dan AS kali ini menyebutkan, AS akan memberikan bantuan senilai 3,8 miliar dollar AS per tahun. Selama ini, bantuan AS per tahunnya mencapai 3,1 miliar dollar AS, dan kesepakatannya akan berakhir pada 2018.

Meskipun nilai bantuan AS sangat besar, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi Israel. Salah satunya, Israel tidak boleh lagi mencari bantuan tambahan kepada Kongres AS. Bantuan itu juga diperuntukkan untuk mendanai program rudal pertahanan baru. Dengan bantuan itu, Israel akan dapat memodernisasi dan lebih melengkapi angkatan bersenjatanya.

Secara politis, paket bantuan militer ini menunjukkan, meski AS dan Israel sering berbeda pendapat soal sejumlah isu strategis, kedua negara tetap bertekad mempertahankan hubungan strategis mereka.

Isu strategis di mana terjadi beda pendapat antara AS dan Israel itu, antara lain, soal kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok negara 5+1 (AS, Inggris, China, Perancis, Rusia, plus Jerman) pada Juli 2015. Kesepakatan ini sangat ditentang oleh Israel, karena dianggap akan memberi peluang bagi Iran untuk terus mengembangkan program nuklirnya.

AS dan Israel juga berbeda pendapat soal pembangunan permukiman Yahudi di daerah Palestina yang diduduki Israel. Pembangunan permukiman Yahudi ini terus digalakkan oleh pemerintah Netanyahu yang berhaluan keras, dan dianggap oleh AS dan Palestina sebagai penghambat proses perdamaian Palestina-Israel.***

Jakarta, November 2016
Ditulis untuk Majalah DEFENDER